Kamis, 10 Oktober 2013

MiLikilah Banyak Sahabat.



1. MILIKILAH BANYAK SAHABAT

            Ciri khas orang yang telah mampu menjalin hubungan sosial yang sehat dan harmonis adalah memiliki banyak  sahabat. Sahabat adalah seseorang yang sangat dekat dengan kita dan ia rela melakukan apa saja yang baik demi kebahagiaan kita. Sahabat lebih dari sekedar teman, kenalan dan kolega. Pada teman, kenalan dan kolega apa yang kita bicarakan kepada mereka adalah hal-hal yang dangkal, yang biasanya adalah hal-hal umum, kelebihan-kelebihan dan kegembiraan-kegembiraan kita saja. Tetapi pada seorang sahabat percakapan kita lebih mendalam. Padanya kita sering curhat dan mengungkapkan sisi-sisi lemah kita bahkan masalah-masalah pribadi kita, seperti kekecewaan, kesedihan dan kemarahan kita. Dan bila kita sedang gembira atau mendapat nasib baik, dia adalah orang pertama yang kita beritahu. Dan dia adalah orang pertama yang kita mintai pertolongan bila kita sedang kesusahan dan biasanya ia akan dengan senang hati menolong kita.
            Banyak hal positip yang kita alami dan rasakan bila kita mempunyai sahabat. Sahabat sebaiknya lebih dari satu, entah dia pria atau wanita, semakin banyak semakin baik. Memiliki sahabat adalah sangat penting sebagai cara belajar awal membangun hubungan yang sehat dan harmonis dalam masyarakat yang lebih luas. Pada sahabat kita dapat belajar artinya mengasihi dan dikasihi, memberi dan menerima, mendengarkan dan didengarkan, rendah hati, sabar, mengalah, setia, gembira, damai dan masih banyak lagi.
            Berdasarkan pengalaman hidup saya, kita akan lebih bahagia bila kita punya sahabat. Dan bila kita mengalami kesusahan dan penderitaan, mereka akan meringankan kesusahan dan penderitaan kita.
            Sejujurnya saya ungkapkan pada anda bahwa waktu SD, SMP, SMA dan kuliah saya tidak mempunyai sahabat seorang pun juga. Hidup saya terasa hampa, bingung dan gersang. Saya menanggung segala penderitaan jiwa saya sendirian. Mungkin inilah penyebab utama saya mengalami sakit jiwa atau justru itu semua adalah akibat penyakit jiwa saya sehingga saya tidak mampu membangun hubungan intim dengan orang lain sebagai sahabat. Kehidupan sosial saya berubah sejak saya keluar dari rumah sakit jiwa untuk yang ketiga kalinya yaitu bulan Agustus tahun 2003. Sejak saat itu saya memutuskan untuk terbuka dan berusaha memiliki sebanyak mungkin sahabat, baik pria maupun wanita. Cara saya mencari sahabat adalah dengan berkenalan, suka menyapa, suka ngobrol, perhatian, jujur, setia dan tulus pada orang-orang yang ingin saya jadikan sahabat. Dengan cara seperti ini saya kini mempunyai banyak sahabat. Mereka semuanya sangat baik pada saya, dan kami saling mengasihi.
            Kesediaan untuk mengobrol sangat penting peranannya dalam membina relasi dengan sahabat-sahabat kita. Berdasarkan pengalaman saya, ngobrol pun ada seninya yaitu kita jangan terburu-buru meloncat-loncat dari satu topik ke topik lainnya, akan lebih baik bila satu demi satu topik didalami sehingga obrolan itu semakin lama semakin mendalam. Orang kadang-kadang terburu-buru meloncat-loncat dari satu topik ke topik lain sehingga terkesan aneh, ini sebenarnya dapat dipahami yaitu mungkin lawan bicaranya tidak suka banyak omong atau hanya diam saja, sehingga ia tidak tahan dan merasa tidak enak dalam keadaan vakum (kosong, hampa, sepi, diam) dalam kondisi semacam ini kita dapat tetap santai dan tenang dan mengobrolkan satu demi satu topik secara mendalam, dan topik yang kita obrolkan tidak harus sesuatu yang penting, yang penting disukai kedua belah pihak.
            Dalam berkomunikasi dengan orang lain kadang-kadang kita akan menjumpai orang-orang yang pandai mempermainkan rasa hati orang. Orang-orang ini sangat tega dan pintar. Ia sering menunjukkan sikap dan perilaku yang berubah-ubah, kadang-kadang menunjukkan sikap dan perilaku yang bersahabat dan kadang-kadang sebaliknya, misalnya: bila kita bersemangat dan antusias padanya tetapi justru ia bersikap dingin dan acuh, bila kita menceritakan sesuatu yang lucu atau menarik padanya, ia tidak tertawa dan menunjukan sikap tidak tertarik, bila kita membantunya ia tidak mengucapkan terimakasih, bila kita memberitahu sesuatu hal yang penting padanya yang ia belum tahu, ia akan bilang bahwa ia sudah tahu, bila kita mengharapkan dukungan dan persetujuannya, ia akan justru melawan, menolak atau bersikap netral. Saya tidak tahu persis apa motivasi mereka berbuat dan bersikap seperti itu, tetapi saya menduga bahwa itulah trik atau cara yang ia pakai agar diterima oleh kita dan agar kita menganggapnya lebih tinggi derajatnya dari diri kita, walaupun trik atau cara ini kadang-kadang justru membuat ia dijauhi, dibenci dan dimusuhi.
            Dilain sisi ada orang-orang tertentu yang polos, apa adanya dan sederhana. Ia seperti anak-anak kecil yang berhati suci. Sikap, tindakan, dan kata-katanya benar-benar sederhana, jujur, tanpa topeng dan trik. Bergaul dengan orang-orang seperti ini adalah sungguh sangat menyenangkan. Bila disimbolkan dalam bentuk binatang, orang-orang seperti ini adalah seperti anjing, yang bila ia menyukai kita ia akan mengibas-ngibaskan ekornya, berlari menemui  kita dan menjilat-njilat bagian tubuh kita, bahkan ia seakan-akan ingin dipeluk atau dibelai-belai. Tetapi bila ia tidak menyukai kita, ia akan menggonggong dengan tidak simpatik, ekornya berdiri dengan kakunya atau ngawet (kaku ke bawah) dan ia tidak segan-segan menggigit kita.                  
            Tetapi saya ingin mengungkapkan bahwa orang yang baik secara sempurna itu tidak ada, Biarawan-Biarawati juga tidak sempurna, bahkan Santo atau Santa pun juga tidak sempurna. Hanya Tuhan yang baik secara sempurna. Kalau kita ingin punya banyak sahabat kita harus belajar menerima dengan tentram segala kekurangan orang lain, terutama segala kekurangan sahabat-sahabat kita.
            Apabila anda mengenal seseorang dan atas pertimbangan tertentu anda tidak berniat untuk menjadikannya sahabat anda, salah seorang teman saya memberi sebuah tip yang jitu yaitu: “Berbuat baiklah padanya tetapi sebaiknya jangan akrab.” Konkretnya jangan lama-lama ngobrol/cangkrukan  dengannya, supaya anda tidak menjadi bagiannya. Apabila anda melakukan hal ini, orang itu akan segan untuk berbuat jahat pada anda. Ini berlaku apabila orang itu adalah seseorang yang licik, suka memanfaatkan orang, sering mendalangi kasus kriminal, atau pun sering melakukan tindak kekerasan sendiri secara langsung. Atau orang-orang tertentu yang tidak anda sukai, atas berbagai pertimbangan, yang hanya anda sendiri yang tahu. Ini penting supaya anda tidak dilunjaki/dilamaki, dan supaya tidak terlalu banyak terlibat suatu masalah yang pada akhirnya dapat merusak suasana damai dalam hati dan pikiran anda.
Saya ingin mengungkapkan bahwa memiliki banyak sahabat itu dapat diibaratkan sebagai sapu lidi dimana apabila lidi itu hanya satu, ia mudah dipatahkan dan tidak dapat diberdirikan dengan tegak, tanpa menancapkannya ke tanah tentunya. Tetapi bila lidi-lidi itu dikumpulkan dan ditali menjadi sebuah sapu lidi, maka lidi yang mulanya hanya satu itu akan tidak mudah dipatahkan dan akan bisa diberdirikan dengan tegak tanpa menancapkannya ke tanah, dan seperti yang anda tahu bahwa apabila lidi itu hanya satu, lidi itu tidak bisa digunakan untuk menyapu tetapi apabila sudah menjadi sebuah sapu, lidi-lidi itu akan sangat bisa digunakan untuk menyapu, bahkan dapat digunakan sebagai sebuah senjata.

Syarat-syarat seorang sahabat yang setia

1.      Memuaskan dia dalam segala sesuatu yang setahu kita berkenan di hatinya.
2.      Bergembira bersama dia dalam kesuksesan, keuntungn serta kemenangannya.
3.      Mengutarakan rahasia-rahasia kita dan memberitahukan hal-hal yang bersifat pribadi kepadanya.
4.      Berbicara baik tentang sahabatnya dalam segala kesempatan.
5.      Bersedia mengurbankan milik, hidup serta kehormatan kita demi dia.

(Sumber: buku “Santo Yohanes dari Salib”, yang disusun oleh H.Pidyarto.O,Carm)

Proses Pertumbuhan Hidup Rohani.



17.  PROSES PERTUMBUHAN HIDUP ROHANI

Pada suatu hari Frater Agung.O,Carm menyarankan agar saya membaca buku, “Puri Batin”, karya Santa Theresia dari Avila, maka saya segera ke toko buku, kemudian membeli dan segera membacanya. Buku “Puri Batin” menceritakan tentang tahap-tahap proses pertumbuhan hidup rohani.
Proses pertumbuhan hidup rohani itu dalam bahasa lain dapat dikatakan sebagai proses mengalahkan ego kita. Dalam buku itu Santa Theresia dari Avila mengungkapkan bahwa setiap manusia harus berjuang untuk mengalahkan egonya masing-masing agar dapat mencintai dan bersatu dengan Allah. Dan perjalanan untuk bersatu dengan Dia diungkapkannya mempunyai level atau tingkatan-tingkatan mulai dari yang kasar kemudian semakin halus-semakin halus, seperti ruangan-ruangan sebuah puri, dari ruangan terluar sampai ruangan yang terdalam. Dimana untuk masuk ke ruangan yang lebih dalam harus melewati banyak pintu dan ruangan, yang dilukiskannya memiliki tujuh level ruangan, sampai akhirnya bila seseorang bisa sampai di ruangan ke tujuh ia akan benar-benar mengalami persatuan dengan Allah Tritunggal Maha Kudus. Namun selama orang itu masih berada di dunia ini, ia pun masih bisa masuk neraka seandainya orang itu dengan sadar dan sengaja menjauhi Allah Tritunggal Maha Kudus, meskipun sudah menikmati buah-buah doa Batin dan tingkatan proses pertumbuhan hidup rohaninya sudah tinggi. Yang harus diingat adalah bahwa pondasi atau dasar untuk bertumbuh dalam hidup rohani adalah kerendahan hati dan kasih yang besar pada sesama. Kalau syarat itu tidak terpenuhi, maka kita tidak akan mungkin bisa bertumbuh. Singkatnya kita menjadi kerdil.
Dan yang perlu diingat adalah bahwa doa dan perbuatan adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Jadi kita tidak boleh melulu berdoa saja tanpa berbuat kasih, sebaliknya kita tidak boleh melulu berbuat kasih saja tanpa berdoa. Kedua-duanya harus berjalan seiring. Untuk memperjelas hal ini, saya akan mengutipkan untuk anda nasehat Santa Theresia dari Avila kepada para suster-susternya, di buku “Puri Batin” berikut ini, namun sebelumnya sebaiknya anda membaca dulu perikop kitab suci di Luk 7:36-50, dan Luk 10:38-42, kemudian baru membaca kutipan di bawah ini:
“Percayalah, Martha dan Maria harus bersama-sama menerima Tuhan di rumah mereka dan menjaga supaya Ia selalu ada bersama mereka, dan jangan menyambut kedatangan-Nya secara tidak sopan dengan tidak menghidangkan makanan apa-apa pun kepada-Nya. Bagaimana mungkin Maria yang duduk di kaki Yesus dapat menghidangkan makanan, andaikata saudarinya tidak membantunya? Usaha kita untuk mendekatkan jiwa-jiwa kepada Tuhan menggunakan pelbagai cara, supaya mereka diselamatkan dan senantiasa memuji Dia. Itulah hidangan bagi Tuhan.
Mungkin kalian memberikan jawaban kepadaku, bahwa Tuhan telah berkata bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik.  Tetapi ketika itu ia sudah menjalankan tugasnya sebagai Martha dan membelai Tuhan dengan mencuci kakinya serta mengeringkannya dengan rambutnya. Apakah menurut pendapatmu bagi seorang nyonya besar seperti dia bukan sesuatu yang hina berjalan melalui jalan-jalan, bahkan mungkin sendirian, karena hatinya begitu berkobar-kobar sehingga ia tidak menyadari perbuatannya? Apakah tidak mungkin bahwa kemudian ia masuk suatu tempat yang belum pernah dimasukinya dan kemudian menanggung cemoohan dari kaum Farisi, atau banyak hal-hal lain lagi? Wanita seperti dia memberi kesaksian tentang perubahan yang demikian di dalam kota! Dan, seperti kita ketahui, di depan mata orang-orang yang begitu jahat! Cukuplah bagi mereka melihat persahabatannya dengan Tuhan untuk membuat mereka membencinya, mengungkit-ungkit kembali masa lampaunya dan sekarang berpura-pura suci. Sebab sudah jelas, Maria segera mengubah pakaian dan lain-lainnya.
Sekarang pun masih begitu, bahkan terhadap orang-orang yang kurang terkenal. Apa lagi zaman dulu itu? Percayalah, para susterku, bagian yang terbaik itu baru dapat diperoleh sesudah banyak percobaan dan penyangkalan. Melihat Sang Guru dibenci saja, bagi dia sudah tidak tertahankan. Betapa hebat gerangan penderitaannya menyaksikan Tuhan wafat? Pada hemat saya, walaupun ia tidak mati sebagai martir, namun melihat Tuhan wafat bagi dia sudah merupakan suatu kemartiran. Dan bertahun-tahun hidup tanpa Dia, pastilah menjadi siksaan yang ngeri baginya. Jadi, kalian mengerti, bahwa ia tidak terus-menerus berada di ruang perjamuan kontemplasi, di kaki Tuhan.
Sekali lagi kuulangi, tidak cukup bahwa pondasi itu hanya terdiri dari doa dan kontemplasi. Tanpa melakukan kebajikan dan tidak berusaha melaksanakannya, kalian akan tetap kerdil. Bagaimana kalian menginginkan supaya Tuhan sudah puas dengan kata-kata saja sedangkan Ia sendiri membuktikan cinta-Nya melalui begitu banyak perbuatan dan penderitaan yang ngeri?”
Seiring proses perjalanan waktu saya juga menjumpai buku “Malam gelap”, karya Santo Yohanes dari Salib. Buku itu juga melukiskan tentang proses pertumbuhan hidup rohani. Dimana dalam buku itu dilukiskan bahwa kita seperti seorang bayi yang diberi minum susu dan makanan yang lembut-lembut, nikmat dan kaya gizi. Namun kemudian akan tiba waktunya dimana Ibu kita menyapih kita, dimana kita tidak lagi menikmati susu asi dan kita mulai dilatih menyantap makanan yang keras-keras. Itulah yang disebut malam gelap. Melalui malam itu kita dibersihkan, disucikan dan dimurnikan. Malam itu berupa kesulitan-kesulitan dan penderitaan-penderitaan. Bila harus saya ulangi dengan lebih jelas adalah apabila kita mulai melangkah ke jalan rohani pertama-tama kita oleh Tuhan akan diberi kemudahan-kemudahan dan kenikmatan-kenikmatan rohani, kemudian semua itu akan dihentikan sehingga kita tidak menjumpai kenikmatan-kenikmatan rohani lagi melainkan justru, kesulitan-kesulitan dan penderitaan-penderitaan rohani yang hebat. Sehingga seolah-olah kita berjalan mundur dan Tuhan meninggalkan kita. Namun apabila kita tetap setia pada Tuhan, kemudian kita akan mengalami kebahagiaan yang luhur, yang hanya dapat dicapai berkat persatuan cinta mesra dengan Tuhan. Segala cacat cela kita yang sangat memalukan dahulu seperti kesombongan, kekikiran rohani, kemesuman, kemarahan, kerakusan rohani, rasa iri hati dan kemalasan rohani pada akhirnya nanti akan diubah menjadi positip, misalnya iri hati untuk mengasihi orang lain secara murni positip. Setelah melewati malam gelap indrawi kita akan masuk ke dalam malam kedua yaitu malam roh, tentu saja apabila Tuhan menghendakinya. Dimana kita akan semakin disempurnakan.
Dari semua itu saya mengambil kesimpulan bahwa semakin berat penderitaan seseorang itu berarti bahwa ia dianggap kuat untuk menanggungnya. Kuat di sini bukan dalam arti sehat tetapi dalam arti setia. Karena kesetiaannya itu ia oleh Tuhan dianugerahi penderitaan yang begitu hebat. Yang disebut malam gelap dan malam roh, agar kemudian setelah itu ia akan mencapai puncak persatuan cinta mesra dengan Allah, yang begitu membahagiakan dan luhur.
Pengalaman Santo Yohanes dari Salib ketika mengalami malam gelap, dituangkannya dalam sebuah puisi yang dikenal dengan sebutan “Madah rohani”, yaitu sebagai berikut:

Madah rohani

Di mana Kau sembunyi,
Kekasih? Aku tertinggal merintih!
Kau lari sebagai rusa
Dan hatiku terluka:
Kukejar, kupanggil Kau yang hilang.

Gembala, jika kamu
Mendaki bukit, lewati kandang ternak
Kebetulan Kau lihat
Kekasihku, katakan:
Aku sengsara, merana, mau mati.
Mencari Kekasihku
Aku naik gunung, menyusuri pantai;
Bunga tidak kupetik
Hewan tak kugetari,
Puri dan batas negeri kuterjang.

Oh hutan dan belukar,
Yang ditanam Kekasihku,
Oh padang subur hijau,
Berwarna ragam bunga,
Katakanlah: Lewat sinikah Dia?

Menyebar keelokan,
Cepat dilewati-Nya padang ini,
Seraya menatapnya,
Dan hanya karena itu
Ditinggalkan-Nya berhias keelokan
Siapakah menyembuhkan?
Sudilah kini menyerahkan Diri.
Jangan utus lagi
Bentara-Mu belaka,
Yang tak mampu penuhi harapanku.

Semua yang hidup bebas
Menjunjung cinta-Mu seribu kali.
Aku semakin terluka,
Hingga aku mau mati
Ku tak tahu apa yang digagapkannya

Ah hidup, bagaimana
Kau dapat menanggung yang bukan hidup.
Panah membawa maut
Kau buat dari api,
Yang dinyalakan cinta Kekasih-Mu.
Hatiku Kau lukai dulu.
Mengapa tidak Kau sembuhkan pula?
Mengapa Kau rampasnya?
Namun toh Kau biarkan,
Tak mau Kau miliki, meski Kau curi?

Padamkanlah nafsuku,
Hanya Engkau dapat memuaskannya.
Aku rindu melihat,
Cahaya sinar mata,
Yang kusimpan, hendak melihat Dikau.

Nyatakan hadirat-Mu.
Semoga aku mati memandang-Mu.
Ingatlah bahwa cinta
Tak habis bersengsara,
Selain bila Engkau hadir memandang.

(Sumber: buku “Santo Yohanes dari Salib, yang disusun oleh H.Pidyarto.O,Carm.)
Perkembangan hidup rohani menurut Para Kudus termasuk Santa Theresia dari Avila dan Santo Yohanes dari Salib, secara garis besar dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1.      Tahap permulaan atau jalan pembersihan.
2.      Tahap kemajuan atau jalan penerangan, dalam keadaan ini berlangsunglah apa yang disebut pertunangan rohani.
3.      Tahap kesempurnaan atau jalan persatuan, di sini pernikahan rohani dilangsungkan.

Perlu diperhatikan, bahwa pembagian hidup rohani menjadi beberapa tahap atau jalan selalu bersifat artifisial, dibuat-buat. Hidup manusia tidak mudah dibagi dengan tepat. Demikian juga hidup rohaninya tidak dapat dibagi dengan terlalu ketat. Sebabnya tak lain ialah karena hidup itu suatu proses. Tentu ada gejala yang membuktikan, bahwa seseorang masih baru mengangkat kaki di jalan hidup ini; atau bahwa dia sudah maju dan memperoleh suatu kestabilan. Tetapi dari pihak lain jelas juga, bahwa dalam semua tahap terdapat gejala yang mudah digolongkan pada tahap tertentu, bila dinilai menurut pembagian artifisial itu tadi. (Sumber: Buku “Cinta membimbing”, yang disusun oleh Komisi spiritualitas Karmel)

Sebagai penutup Bab I ini, saya ingin mempersembahkan untuk anda, rangkaian kata berikut ini:

Penyerahan
(Santa Theresia dari Avila)

Aku milik-Mu, untuk Dikau aku dilahirkan.
Apa yang Kau kehendaki, agar terjadi dengan aku?
Aku milik-Mu, sebab Engkau menciptakan aku.
Aku milik-Mu, sebab Engkau menebus aku.
Aku milik-Mu, sebab Engkau menanggung aku.
Aku milik-Mu, sebab Engkau memanggil aku.
Aku milik-Mu, sebab Engkau menunggu aku.
Aku milik-Mu, sebab Engkau tidak membiarkan aku binasa.
Apa yang Kau kehendaki, agar terjadi dengan aku?

Aku mohon:
Jika Engkau menghendaki agar aku bersukacita, berilah aku sukacita.
Jika Engkau menghendaki agar aku menderita, aku rela mati menanggung rasa kesakitan.
Katakan di mana, bagaimana dan bilamana.
Katakan itu kepadaku, hai Cintaku, katakanlah!
Apa yang Kau kehendaki, agar terjadi dengan aku?
Ya Tuhan apa yang masih dapat dirasa berat, bila engkau besertaku?
Apa yang tidak berani kami usahakan bagi-Mu, bila Engkau bersatu mesra dengan kami?
Bersama Santo Agustinus aku mohon kepada-Mu:
“Semoga aku mengerjakan apa yang Kau tugaskan kepadaku, dan tugaskanlah kepadaku, apa yang Kau kehendaki.”
Bila dibantu oleh pertolongan dan rahmat-Mu aku tidak akan berpaling dari pada-Mu.
Mulai saat ini aku ingin melupakan diriku dan hanya memperhatikan kehendak-Mu, bagaimana aku dapat mengabdi-Mu.
Aku ingin melaksanakan kehendak-Mu agar kehendak-Mu menjadi kehendakku.
Keinginan hatiku tidak amat kuat, tetapi Engkau berkuasa, Ya Allahku!

Berbahagialah hati, yang penuh cinta hanya memikirkan Allah.
Berbahagialah hati, yang menyangkal makhluk ciptaan demi Tuhan dan mencari kehormatan dan kenikmatannya dalam Tuhan.
Berbahagialah hati, yang sudah tidak bersusah lagi mengenai dirinya, karena seluruh kerinduannya terarah kepada Allah.
Berbahagialah dia, karena dengan tenang dan gembira ia bertahan di tengah-tengah ombak laut, yang bergolak karena angin ribut.

Ya Yesus, siapa dapat melukiskan keuntungan yang kita peroleh, bila menyerahkan diri ke dalam tangan-Mu dan saling berjanji: aku hanya memandang Kekasihku dan Kekasihku hanya memandang aku.
Beliau bergiat untuk kepentinganku dan aku bergiat untuk kepentingan-Nya!
Semoga hanya ini yang kau rindukan: melihat Allah.
Semoga hanya ini yang kau takuti: kehilangan Allah.
Semoga hanya ini menyusahkan hatimu: belum menikmati Allah.
Semoga hanya ini menggembirakan hatimu: Beliau dapat membimbing engkau ke dalam hadirat-Nya, dan di situ engkau akan hidup penuh damai.

(Sumber: buku “Santa Theresia dari Avila, Hidup dan Karya”, yang diterbitkan oleh Dioma).

Kebahagiaan

17.  KEBAHAGIAAN

Sebelum meneruskan pembicaraan ini, marilah kita bersama-sama merenungkan Mazmur 126 ayat 5 dan 6 yang berbunyi: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Ayat ini juga identik dengan “Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya”, yang selalu dinyanyikan oleh Romo sesudah bacaan injil, pada waktu Misa kudus.
            Salah satu orang yang saya anggap sebagai guru kehidupan saya adalah Pak John. Beliau banyak mengajarkan filsafat kehidupan kepada saya, antara lain beliau pernah mengungkapkan bahwa kebahagiaan terletak tepat dibalik penderitaan, seperti dua sisi koin mata uang logam. Penderitaan yang dijalani dengan sabar, rendah hati dan penuh rasa syukur,  ibaratnya seperti memanggul salib seperti Tuhan Yesus akan melahirkan berkat-berkat yang tak terduga, terutama berkat-berkat rohani yang nilainya jauh lebih tinggi dari pada kekayaan materi. Menjalani penderitaan dengan penuh penghayatan merupakan jalan realistis menuju bahagia, tidak melambung di awang-awang. Semakin banyak kita menderita dan menghayatinya, kita akan semakin menyerupai Tuhan Yesus. Kita akan menjadi Yesus yang lain, yang hidup dengan rendah hati dan penuh kasih pada sesama. Kesombongan dan kekejaman hanya membuat kita jauh dari Tuhan dan membuat impian kita tidak terwujud, seberapa besar rejeki yang kita terima, sebesar itu pulalah malapetaka yang kita alami. Ibaratnya kita masih perlu dibentuk lagi dengan penderitaan sampai kita menemukan maknanya.  
Kebanyakkan orang ingin kaya, namun pertanyaannya adalah setelah ia kaya ia mau apa? Menjalani hidup penuh penghayatan dan pengabdian kepada Tuhan adalah jauh lebih tak ternilai harganya daripada memiliki kekayaan materi berlimpah namun gersang. Sebaiknya kita mendifinisikan ulang apa arti kata sukses. Banyak orang mengira bahwa apabila ia kaya ia akan bahagia. Tetapi itu salah besar. Dalam kenyataannya banyak orang kaya yang hidupnya tidak bahagia misalnya kreditnya banyak atau bila mobil mewahnya terserempet sedikit saja ia akan marah-marah, alasannya biaya ngecatnya mahal. Bila seseorang sudah menjadi kaya dan berhasil meraih kesuksesan materi biasanya itu bukan bahagia melainkan kesenangan sesaat. Orang bijak ini menceritakan pada saya bahwa dulu ia sangat miskin tetapi akhirnya ia menjadi salesman sukses yang penghasilannya perbulan mencapai puluhan juta, tetapi justru ia merasa gersang dan merasa jauh dari istri dan anak-anaknya, akhirnya pekerjaannya itu ditinggalkannya dan ia lebih memilih pekerjaan dengan gaji kecil agar ia bisa lebih dekat dengan istri dan anak-anaknya, dan mengabdi pada Tuhan dengan menguduskan keluarganya dan mengasihi serta menggarami sesama yang ada di sekitarnya. Mengabdi pada Tuhan merupakan motto hidupnya.
Menurutnya jalan untuk mencapai bahagia bukanlah hal-hal besar yang melambung di angkasa, melainkan justru terletak pada hal-hal kecil dan sederhana, yaitu bagaimana kita menghayatinya. Yang semua itu hanya dapat kita hayati menggunakan kacamata Tuhan. Pada akhirnya kita akan sampai pada pengertian bahwa jalan Tuhan adalah menyangkal keinginan cinta diri, atau dengan kata lain dapat dikatakan mengalahkan ego. Itu adalah salib penderitaan kita yang sebenarnya, yang membuat kita berbeda dari orang-orang pada umumnya, sehingga perjuangan Tuhan Yesus untuk kita tidak sia-sia. Orang bijak ini menceritakan pada saya tentang Santo ALonso yaitu salah satu orang yang terkenal kebijaksanaannya dalam sejarah gereja, namun bila kita menilik kehidupannya, tugasnya hanyalah sebagai seorang penjaga pintu, tetapi penghayatan hidupnya sangat luarbiasa, sehingga ia pantas digelari dengan sebutan seorang Santo. Kemudian, beliau menceritakan pada saya tentang temannya yang mengabdi pada seseorang dengan rajin, tekun dan setia mulai dari masa orang yang diabdi itu masih miskin; kalau orang yang ia abdi itu makan karak ia pun ikut makan karak dan sebagainya, sampai orang yang ia abdi itu menjadi sangat kaya raya, namun keadaannya tetap miskin dan tidak punya rumah sendiri, namun meskipun begitu ia tetap setia pada orang yang ia abdi itu. Pada suatu hari ia berniat membeli sebuah rumah namun uangnya sangat kurang dari cukup, karena ia sangat merindukan ingin punya rumah sendiri, maka ia suka berjalan-jalan sambil melihat-lihat dan mengagumi rumah-rumah mewah yang ada dikiri dan kanannya, sampai akhirnya ia melihat satu rumah edial yang diimpikanya, bila ia lewat di depan rumah itu ia selalu menyempatkan diri agak lama untuk mengaguminya. Sampai suatu hari seseorang bertanya padanya apakah ia menyukai rumah itu, dan ia pun mengiyakannya. Orang itu, yang tak lain adalah sang pemilik rumah mewah itu bertanya lagi padanya, ia punya uang berapa? maka iapun menyebutkan angka yang hanya sedikit. Namun sang pemilik rumah itu mengatakan padanya bahwa mulai saat itu ia boleh tinggal di rumah itu dan rumah itu menjadi miliknya, kekurangannya boleh ia cicil seturut kemampuannya. Pelajaran yang dapat dipetik dari sini adalah bahwa Tuhan pada suatu saat akan membuka jalan terang bagi orang yang dengan sungguh-sungguh mengabdi pada-Nya, Tuhan tidak akan membiarkan orang yang dengan sungguh-sungguh mengabdi pada-Nya terus-menerus menderita sengsara. Dan jalan sukses adalah melakukan hal-hal kecil dan sederhana dengan penuh penghayatan. Akhirnya kita akan memahami bahwa kebahagiaan terletak di balik penderitaan.
Pada waktu saya datang kerumah beliau untuk yang kesekian kali, secara kebetulan siaran radio, saya lupa radio apa, mengungkapkan bahwa penderitaan dapat menjadi rahmat atau kutuk, tergantung cara kita memaknainya. Pada waktu itu siaran radio itu menceritakan tentang seseorang yang mempunyai seekor kuda putih yang sangat bagus. Banyak orang datang kepadanya untuk membeli kuda itu dengan harga tinggi, tetapi tawaran mereka ditolaknya. Orang-orang yang ada di sekitarnya mengolok-ngoloknya karena menolak tawaran yang sangat menggiurkan itu. Pada suatu hari kuda orang itu hilang. Orang-orang yang ada di sekitarnya semakin menjadi-jadi mengolok-ngoloknya, sebagai orang yang bodoh dan sial. Namun sang pemilik kuda itu tidak berpikir macam-macam, misalnya kudanya dicuri orang atau lainnya. Ia hanya mengatakan bahwa yang ia tahu kudanya tidak ada di kandangnya, tidak lebih dari itu. Ia menolak untuk berpikir negatif, apalagi mencurigai tetangga dan orang-orang yang menawar kudanya. Sampai pada suatu hari kudanya kembali ke kandangnya dengan membawa 12 ekor kuda liar yang mengikutinya. Rupanya selama ini kudanya lari ke hutan dan setelah beberapa lama bergaul dengan kuda liar, ia rindu ingin pulang dan kembali ingin merasakan kasih sayang dan cinta pemiliknya. Melihat kenyataan ini, orang-orang yang dulu mengolok-ngoloknya berbalik memuji-muji keberuntungannya. Namun ia pun menolak berpikir macam-macam. Ia hanya mengatakan bahwa yang ia tahu kudanya tidak ada di kandangnya dan sekarang kembali ke kandangnya dengan membawa 12 ekor kuda liar bersamanya. Tidak lebih dari itu. Pelajaran yang dapat dipetik dari sini adalah bahwa kita jangan terlalu cepat berpikir negatif manakala kemalangan menimpa diri kita, karena kemalangan itu akan menjadi berkat melimpah apabila kita berpikir positip.
Ketika saya sedang ngobrol-ngobrol dengan Pak John di gubuknya, beliau memberi saya suatu formula untuk dapat tetap merasa bahagia, meskipun betapa jahat sikap, perkatan dan perbuatan orang pada kita. Ia menyampaikan idenya melalui sebuah perumpamaan, yaitu: Ia mengambil korek apinya kemudian berkata pada saya: “Apabila korek api milik saya ini saya berikan kepadamu tetapi kamu tidak mau menerimanya, korek api ini milik siapa?” “Tetap milik Bapak” jawab saya. “Begitupun dengan sikap, perkataan dan perbuatan jahat yang orang tujukan untuk kita. Semua itu tidak akan mengganggu kedamaian dan kebahagiaan kita, asalkan kita menolak untuk menerimanya”, sahutnya.
Kemudian beliau menceritakan pada saya bahwa pada suatu hari Santo Fransiskus Assisi mengutus murid-muridnya untuk mengemis dari rumah-kerumah orang. Setelah kembali, Santo Fransiskus bertannya apa yang mereka alami? Mereka menjawab bahwa mereka sangat bahagia karena orang-orang memberi mereka banyak roti dan uang, disertai senyuman dan keramahan. Santo Fransiskus bertanya: “Apakah itu yang kalian sebut bahagia?” mereka serentak menjawab “Ya.” Lain hari Santo Fransiskus kembali mengutus mereka untuk mengemis dari rumah-kerumah, tetapi kali ini banyak diantara mereka yang tidak diberi roti atau uang sepeserpun tetapi justru diumpat-umpat sebagai pemalas, parasit, dan suka bahagia di atas penderitaan orang lain. Ketika kembali menemui Santo Fransiskus, mereka menceritakan pada beliau tentang betapa sialnya nasib mereka. Mendengar umpatan dan keluh kesah mereka, Santo Fransiskus membuka mata hati dan pikiran mereka bahwa itu semua adalah termasuk rahmat dan berkat dari Tuhan dan harus disyukuri.
Kemudian saya mengutarakan pada beliau tentang keinginan saya agar saya ditarik oleh Allah dan seluruh hidup saya selanjutnya direncanakan oleh Allah sendiri. Beliau mengatakan bahwa disinilah persisnya letak kesulitannya karena kita dan bahkan para kudus sendiri kerap meraba-raba dalam gelap tentang rencana sebenarnya dari Allah untuk kita. Namun bila kita sudah melihat titik terangnya, seperti para kudus kita dapat berkata bahwa tidak ada kata kecewa untuk kita, karena semua yang kita terima dan kita alami adalah yang terbaik yang Tuhan rencanakan dan berikan untuk kita. Hal ini menggenapi apa yang tertulis di 1 Tes 5:18, yang berbunyi: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
Saya mengamini semua nasehat Pak John tersebut. Namun selain itu saya juga punya formula bahagia pribadi, yang saya temukan seiring perjalanan proses hidup saya. Formula bahagia yang saya maksud itu adalah:
1.      Kosong, terbuka dan bersih.
2.      Berani dan bebas.
3.      Jangan suka menunda.

Agar lebih jelas, saya akan menguraikannya:

1. Terbuka, kosong dan bersih

            Ibarat gelas, kita dalam keadaan tertutup dan penuh dengan kotoran. Gelas itu hanya dapat diisi oleh air minum yang nikmat dan lezat apabila gelas itu dalam keadaan terbuka dan kosong, paling tidak muatannya dikurangi. Tidak hanya itu sebaiknya juga dalam keadaan bersih. Kelihatannya hal ini hanya sepele tetapi bila benar-benar kita lakukan, kita akan tahu bahwa tidak mudah. Contoh konkret pelaksanaannya adalah:
a.       Kalau kita punya Hp atau Komputer, kita bersihkan Hp atau Komputer kita itu dari sampah-sampah yang tidak berguna, agar dapat menerima Sms dan menyimpan data yang benar-benar penting.
b.      Kamar pribadi kita harus dalam keadaan bebas dari segala sampah.
c.       Kalau kita punya barang yang kita peroleh secara tidak sah/ tidak jujur, misalnya pakaian, buku, atau bahkan uang, mobil atau rumah sebaiknya kita kembalikan pada yang berhak, atau dapat juga kita kembalikan lewat orang lain yang sangat membutuhkan, apabila kita malu mengembalikannya pada orang yang berhak.
d.      Kita harus rajin merawat diri, misalnya mandi, sikat gigi, potong kuku, potong rambut, mencuci pakaian, strika dan lain-lain.
e.       Kita harus membersihkan jiwa kita (Pikiran dan perasaan kita) dari segala kotoran, misalnya dengan curhat pada orang yang dapat kita percaya misalnya dokter atau pembimbing rohani kita. Cara terampuh adalah dengan menerima Sakramen pengampunan dosa.
f.       Kita harus murah hati dalam membagi-bagikan harta milik kita, entah materi, ilmu atau tenaga. Misalnya dengan kolekte, menyumbang pengemis, mengajar orang dan menasehati orang.

2. Berani dan bebas

            Yang saya maksudkan di sini adalah berani dan bebas berekspresi sehingga kita punya spontanitas yang tinggi. Contoh konkretnya adalah “Beranikah anda bernafas dengan bebas dan sepuas-puasnya? Agar anda dapat merasakan nikmatnya dan bisa mensyukuri setiap tarikan dan hembusan nafas anda?

3. Jangan suka menunda.

            Menghargai waktu dan kecepatan bergerak adalah sangat penting agar kita tidak terlambat. Lakukanlah rencana anda, segera sesudah ia muncul pertama kali dalam pikiran dan perasaan anda. Amat sangat disayangkan apabila gara-gara menunda, anda terlambat satu atau dua menit apalagi sampai seminggu. Tetapi apabila anda cepat bergerak namun terlambat, saya yakin bahwa rasa kecewa dan penyesalan diri anda tidak akan terlalu dalam.

            Demikianlah tiga tip bahagia dari saya. Saya yakin apabila anda melaksanakannya, anda pasti akan bahagia.
Sebelum saya mengakhiri sub judul ini, ada baiknya saya mempersembahkan untuk anda suatu ungkapan yang tertulis di sebuah Gereja di Assisi, Italia, berikut ini:

Jika engkau tak merasa bahagia

“Aku adalah terang, tetapi engkau tidak melihat Aku.
Aku adalah jalan, tetapi engkau tidak mengikuti Aku.
Aku adalah kebenaran, tetapi engkau tidak percaya kepada-Ku.
Aku adalah hidup, tetapi engkau tidak mencari Aku.
Aku adalah gurumu, tetapi engkau tidak mendengarkan Aku.
Aku adalah Tuhan, tetapi engkau tidak menuruti Aku.
Aku adalah Allahmu, tetapi engkau tidak bersandar pada-Ku.
Aku adalah sahabat karibmu, tetapi engkau tidak mencintai Aku.
Apabila engkau tidak merasa bahagia, kesalahan bukan terletak pada-Ku.”

(Sumber: buku “Kekasih Allah”, karya Lukas Batmomolin,SVD).